Nexusnetmedia.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur memperkuat kesiapsiagaan dan respons cepat untuk menangani titik panas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan berdasarkan pemantauan di lapangan, terdapat 24 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten di Kaltim.
“Berdasarkan pemantauan hari ini di lapangan, kami mencatat keberadaan 24 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah kabupaten,” ujar Buyung di Samarinda, baru-baru ini dikutip dari Antaranews.com.
Ia menyebut Kabupaten Paser saat ini menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas yang cukup tinggi. Selain Paser, BPBD Kaltim juga memberikan perhatian khusus terhadap kondisi di Kabupaten Berau yang masih memerlukan respons cepat dari petugas di lapangan.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD Kaltim terus meningkatkan patroli dan kesiapsiagaan personel hingga tingkat tapak. Setiap regu disiagakan dengan sedikitnya 10 personel yang diperkuat prajurit TNI, aparat kepolisian, serta relawan desa.
“Kami terus memperkuat patroli dan menyiagakan minimal 10 personel pada setiap regu yang dibantu langsung oleh prajurit TNI, aparat kepolisian, serta relawan desa,” katanya.
Kesiapsiagaan tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya perhatian terhadap perkembangan titik panas di Kaltim. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jumlah hotspot di Kaltim hingga 19 Agustus 2026 tercatat 9.861 titik, melampaui 9.793 titik yang tercatat sepanjang Agustus 2015 saat periode El Nino.
Menurut Buyung, kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat sistem penanggulangan karhutla, termasuk memastikan posko dan personel tetap siaga di lapangan.
“Lonjakan kemunculan titik api pada tahun sebelumnya menjadi evaluasi bagi kami untuk terus menyiagakan posko penanggulangan hingga tingkat tapak,” ujarnya.
Dalam penanganan di lapangan, petugas masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses menuju sejumlah lokasi. Kondisi jalan yang sulit membuat kendaraan pemadam, termasuk armada tangki air, tidak selalu dapat menjangkau titik kebakaran secara langsung.
Untuk mengatasi kendala tersebut, petugas menggunakan berbagai peralatan alternatif. Salah satunya dengan memanfaatkan tangki air portabel yang dapat dibongkar-pasang dan memperpanjang selang hingga sekitar 200 meter untuk menjangkau lahan yang perlu dibasahi.
“Para petugas kami terpaksa menggunakan tangki air portabel bongkar pasang dan menyambung selang hingga sepanjang 200 meter demi membasahi lahan,” kata Buyung.
Selain penanganan langsung di lapangan, Pemprov Kaltim juga tengah menyiapkan usulan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Upaya tersebut diarahkan untuk membantu membasahi wilayah yang rawan terbakar sekaligus mengisi embung pertanian masyarakat, khususnya di sekitar kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Modifikasi cuaca diharapkan dapat menjadi salah satu langkah mitigasi untuk mengurangi potensi munculnya titik panas baru di tengah kondisi cuaca kering dan perubahan arah angin yang dinamis.
BPBD Kaltim menegaskan penanganan karhutla membutuhkan kewaspadaan bersama. Selain kesiapan personel dan peralatan, partisipasi masyarakat untuk segera melaporkan potensi kebakaran menjadi bagian penting agar api dapat ditangani sedini mungkin sebelum meluas.
Sumber :antaranews.com












