Musnahnya Era Diktator Dalam “Ramalan Wahyu” Nabi Muhammad SAW Setelah Fase Demi Fase (Part-1)

Oleh: Muhammad Irsyad (Alumni Madrasah Darud Da’wah Wal-Irsyad)

 

Bismillahirrahmanirrahim. Kelahiran dan Masa Kenabian Nabi Muhammad SAW adalah Fase akhir zaman yang terang benderang, Rasulullah SAW membagi 5 tahapan masa berdasarkan sabdanya yang berbunyi:

Masa kenabian ada pada kalian sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian khalifah diatas manhaj nubuwwah sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian kerajaan yang menggigit (Mulkan Addhan) sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian, kerajaan yang diktator (Mulkan Jabbariyyan) sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian Khalifah di atas Manhaj Nubuwwah. Kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad).

Dalam menilik Hadits diatas, penulis akan memberikan gambaran melalui beberapa paragraf yang memudahkan urutan pemahaman dari masa ke masa melalui nubuwwah/nubuat yang ada.

“Ramalan Wahyu” (Nubuwwah) yang Banyak Terbukti Melalui Hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam menyampaikan informasi tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan, termasuk munculnya kelompok-kelompok tertentu, pergeseran nilai, dan kondisi sosial masyarakat yang akan datang. Melalui Hadits-hadits yang ada, tidak hanya menjadi pedoman bagi umat Islam, tetapi juga menunjukkan kebenaran kenabian beliau, yang terus relevan hingga kini.

Nabi Muhammad Tidak Pernah Berdusta
Salah satu karakteristik utama Nabi Muhammad SAW adalah kejujurannya. Beliau dikenal sebagai “Al-Amin” atau yang terpercaya sebelum menerima wahyu. Selama masa kenabiannya, beliau tidak pernah berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar. Kejujuran ini menciptakan kepercayaan di antara para sahabat dan pengikutnya. Juga sebagai garansi bahwa ia memang dipandu oleh Firman Allah SWT melalui wahyu.

Dengan integritasnya, Nabi SAW membangun fondasi yang kuat bagi umat Islam, yang mengajarkan pentingnya kejujuran sebagai nilai utama dalam kehidupan sehari-hari. Maka, tidak dapat dihindari bahwa kebenaran “ramalan wahyu” adalah mutlak.

Kondisi Masa Kenabian (Tahun 611 M)
Selama masa kenabian, implementasi kehidupan beragama dan bersosial, dipimpin langsung oleh seorang nabi yang bertitah dan bertindak hanya berdasarkan hukum Allah SWT. Sehingga dalam mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan politik semuanya dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang adil dan berkeadilan. Namun setelah wafatnya Sang Nabi Terakhir, kepemimpinan diserahkan kepada para pewaris/”wakil-wakil” nabi (Khalifah).

Masa Khalifah Rasyidah (Tahun 635 M)
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh para khalifah rasyidah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Dalam periode ini, umat Islam mengalami perkembangan yang pesat dalam berbagai aspek, termasuk ilmu pengetahuan, seni, dan kebudayaan, serta penerapan prinsip keadilan yang diajarkan Nabi.

Dinasti Bani Umayyah (Mulkan Addhan Tahun 661 M)
Dinasti Bani Umayyah membawa perubahan besar dalam politik dan struktur sosial umat Islam. Kebijakan yang terkadang memihak pada kalangan tertentu menyebabkan munculnya gerakan oposisi. Meskipun demikian, Bani Umayyah tetap berkontribusi pada penyebaran budaya dan peradaban Islam di berbagai belahan dunia.

Dinasti Bani Abbasiyah (Mulkan Addhan Tahun 751 M)
Bani Abbasiyah mengambil alih kekuasaan dari Bani Umayyah dan mendirikan kekhalifahan yang dikenal dengan kekhalifahan Abbasiyah. Masa ini ditandai dengan kemajuan luar biasa dalam ilmu pengetahuan, filosofi, dan seni. Kota Baghdad menjadi pusat peradaban dan intelektualitas. Meskipun banyak kemajuan, Bani Abbasiyah juga menghadapi tantangan internal, seperti perpecahan dan konflik yang mengarah pada kemunduran kekuasaan mereka di kemudian hari.

Dinasti Masa Utsmaniyah (Mulkan Addhan Tahun 1299 M)
Kekhalifahan Utsmaniyah merupakan salah satu kekhalifahan terpanjang dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinan mereka, Islam menyebar ke Eropa, Afrika, dan Asia. Utsmaniyah dikenal karena kemampuan administrasi yang baik dan pengembangan infrastruktur, serta pelestarian tradisi dan budaya Islam. Namun, berbagai tantangan, termasuk konflik militer dan pertikaian internal, mulai melemahkan kekuasaan Utsmaniyah menjelang akhir masa kekuasaan mereka.

Kehancuran Utsmaniyah (tahun 1928 M)
Pada tahun 1928, kekhalifahan Utsmaniyah resmi dibubarkan, menandai akhir dari sebuah era panjang dalam sejarah Islam. Kehancuran ini menyebabkan banyak umat Islam kehilangan identitas dan sistem pemerintahan yang telah ada. Banyak negara yang sebelumnya bagian dari kekhalifahan mengalami perubahan besar, termasuk pembentukan negara-negara baru dan sistem politik yang berbeda dengan lahirnya LBB & PBB. Perubahan ini membawa dampak signifikan terhadap lemahnya umat Islam di seluruh dunia.

Masa Pemimpin Diktator (Mulkan Jabariyyan Tahun 1928 M dst)
Setelah runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah (abad 19), umat Islam menghadapi berbagai tantangan baru dalam bentuk pemerintahan sekuler dan kontrol asing hingga pada masa ini (abad 21), muncul istilah “mulkan jabariyyan,” yang menggambarkan keadaan pemerintahan yang otoriter. Umat Islam dihadapkan pada tantangan globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial yang cepat. Namun, semangat untuk kembali kepada ajaran Islam dan nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW tetap hidup dalam masyarakat dan mulai menguat yang ditandai dengan semakin berkembangnya jumlah pemeluk Islam melalui angka statistik dunia.

Menunggu Era Al-Mahdi dan Nabi Isa (Minhaj Nubuwwah Tahun Belum Diketahui)
Akhir dari akhir zaman menurut ajaran Islam adalah menunggu kedatangan Al-Mahdi dan Nabi Isa AS. Kedatangan mereka diharapkan membawa keadilan, kedamaian, dan kebenaran bagi umat manusia. Umat Islam percaya bahwa masa ini akan menjadi puncak dari perjuangan dan pengharapan, di mana nilai-nilai Islam akan ditegakkan kembali. Dalam menghadapi tantangan zaman modern, keyakinan akan kedatangan mereka menjadi sumber harapan dan motivasi bagi umat Islam untuk terus berjuang dalam menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Ada sesuatu yang penting untuk kita ketahui yang akan penulis jelaskan secara singkat:

Era Kenabian Nabi Akhir Zaman adalah pemimpin tertinggi, bukan hanya sebagai kepala negara atau setara presiden, lebih dari itu adalah pemimpin dunia, ibarat mengepalai Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) status Nabi Muhammad SAW adalah president dari PBB tersebut. Namun Nabi sebagai pejabat tidak hidup bermewah-mewahan, melainkan hidup sederhana bahkan lebih memilih menghasbiskan harta dan hidup miskin demi mensejahterakan umatnya.

Era Khalifah, seorang khalifah adalah wakil dari seorang Nabi yang telah wafat. Mereka juga berstatus sebagai pemimpin dunia dan bangsa-bangsa, akan tetapi bukanlah seorang nabi, tetapi mereka meniru gaya hidup seorang nabi, meski kaya, mereka juga tidak bermewah-mewahan seperti seorang raja atau pejabat diera modern.

Kehidupan Dinasti Kerajaan Islam, selama ribuan tahun, terjadi pergeseran gaya hidup, mulai dari sederhana sampai yang bermewah-mewahan hingga pada masa ini, Sebenarnya lahirnya aliran sufi adalah untuk menyinggung sekaligus mengingatkan para raja-raja Islam agar tetap hidup dalam kesederhanaan, itulah sebabnya kaum sufi selalu menggunakan pakaian lusuh hanya sekedar untuk menyinggung dan mengingatkan.

Pemimpin diera Modern/Revolusi Industri sudah pasti akan hidup bermewah-mewahan dan cenderung lebih senang menggunakan fasilitas negara dalam setiap jengkal kehidupan mereka. konsekuensi yang akan terjadi adalah, ketika raja/pejabat hidup kaya, maka dapat dipastikan rakyat akan hidup dalam kemiskinan, sebab orang yang kenyang cenderung lupa bahwa ada orang disekitar mereka yang merasakan lapar.

Oleh karenanya berdasarkan “ramalan wahyu”, akhir zaman akan kembali dipimpin oleh seorang khalifah yang akan menghancurkan kehidupan sekuler dengan kembali pada ajaran kenabian, meski tak dipimpin oleh seorang nabi, tetapi ajarannya akan kembali pada seperti masa kenabian,

Mereka adalah Al-Mahdi yang merupakan keturunan terjauh dari Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS yang akan mendampingi Al-Mahdi dalam menumpas sekularisme dan keserakahan. Diera yang akan datang itu, bisa dipastikan bahwa umat akan hidup dalam kesejahteraan karena tidak akan ada lagi istilah MPR, DPR, DPD dan sebagainya yang hanya menghabiskan banyak anggaran rakyat, yang ada hanya pemimpin dan pendampingnya, dapat dipastikan, mereka akan hidup dalam kesederhanaan tanpa menggunakan fasilitas negara, selain sibuk berbagi kesejahteraan dan keadilan.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *