Nexusnetmedia.id, – Pemerintah Kota Bontang semakin memperkuat upayanya dalam menekan angka stunting, dengan salah satu langkah strategis berupa pemberian makanan tambahan (PMT) sehat dan bergizi kepada 1.219 balita yang mengalami stunting. Program ini ditargetkan memberikan dampak signifikan dalam waktu tiga bulan, dengan harapan kasus stunting di Bontang dapat diselesaikan atau setidaknya menurun drastis.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengungkapkan bahwa awalnya terdapat sekitar 1.700 balita yang terindikasi mengalami stunting, berdasarkan hasil operasi timbang serentak di seluruh kelurahan. Dari hasil pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter anak, angka riil kasus stunting berada di 1.219, sementara sisanya hanya mengalami pertumbuhan terhambat akibat faktor genetik, dengan kondisi gizi dan berat badan yang tetap normal.
Saat ini, prevalensi stunting di Bontang tercatat sebesar 12 persen. Untuk menekan angka tersebut, Pemkot menganggarkan dana sekitar Rp4 miliar untuk PMT, dengan harga per porsi makanan bergizi sekitar Rp32 ribu. Pengadaan makanan bergizi ini nantinya akan dikelola oleh puskesmas melalui e-katalog.
Target utama program ini adalah menyelesaikan kasus stunting atau setidaknya menurunkan prevalensinya dalam waktu 56 atau tiga bulan. Optimisme ini didasarkan pada keberhasilan Kota Surabaya dalam menekan angka stunting dari 28,9 persen pada 2021 menjadi hanya 4,8 persen di akhir 2022, bahkan turun lebih jauh ke 1,6 persen pada 2023.
“Kota lain bisa menurunkan angka stunting secara signifikan dalam setahun, tentu kita juga bisa,” kata Neni dengan penuh keyakinan.
Selain intervensi gizi melalui PMT, Pemkot juga menekankan pentingnya literasi bagi orang tua anak-anak stunting. Petugas lapangan akan memberikan edukasi terkait pola makan sehat, kebersihan lingkungan, serta pentingnya menjaga higienitas saat makan.
“Kami tidak hanya memberikan makanan bergizi, tetapi juga memastikan penerima memahami pentingnya kebersihan dalam mengonsumsi makanan, karena jika tangan masih kotor saat makan, masalah stunting tidak akan selesai sepenuhnya,” ujar Neni.(*)












