NEXUSNETMEDIA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Muhammad Zulkifli seorang pemuda keturunan kutai kelahiran Loa Janan Ilir, 6 Juni 1987 adalah sosok pemerhati seni budaya lokal berupa Tingkilan Kutai, yang akhir-akhir ini viral di Kaltim setelah perfom di event Pesona Balikpapan dan Balikpapan Fest 2024 telah menjadi perhatian khusus nexusnetmedia, betapa tidak, diera globalisasi milenium ke-2 dimana pengaruh global sangat masif merubah gaya hidup kearah modernis, namun pemuda satu ini malah bergulat dan bergelut di dunia musik tradisional.
Pemilik akun tiktok zoelbosure.id ini malah menjadi pemerhati, penggiat sekaligus penggagas musik tradisional asli Kalimantan Timur berupa Tingkilan Kutai yang saat ini sudah mulai redup oleh karena derasnya pengaruh musik modern abad ini.
Tak tanggung-tanggung, karena kecintaannya terhadap budaya asli warisan leluhur ini, ia bahkan telah membangun sebuah studio musik yang bernama Borneo Suara Recording. dalam wawancara selasa, 1 Oktober 2024 ia mengatakan bahwa studio yang ia kembangkan saat ini adalah adalah buah karyawanya sendiri karena ia mewarisan darah seni ini memang menurun dari ayahnya alm. Yusrani Ismail yang merupakan pemusik tingkilan pada era 70an.
Studio yang awalnya berada di loa janan ilir tersebut lambat laun peralatannya mulai diangkut ke kota Balikpapan karena disana ia merasa mendapatkan perhatian khusus berupa pembinaan dari DISPORAPAR Kota Balikpapan dimana ia dan parternya Putri Karundeng, kerap di panggil untuk perfom mengisi acara yang semakin padat di kota minyak itu.
Meski ia sedang melestarikan seni budaya kultural tradisional, namun ia sering memadukan warna musiknya dengan nuansa modern agar terkesan lebih update sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Juga Musik Tingkilan ini menurutnya mesti dikembangkan sesuai perkembangan zaman tanpa menghilangkan sisi orisinil dari Musik Tingkilan itu sendiri. Dengan demikian harapannya musik tradisional yang ia geluti dapat memberikan warna tersendiri dengan tidak meninggalkan budaya asli daerah, tidak pula ketinggalan zaman. (*)












