Nexusnetmedia.id – Bunda Literasi Kalimantan Timur, Sarifah Suraidah Harum, mendorong penguatan budaya belajar dimulai dari lingkungan keluarga melalui Gerakan Literasi Kalimantan Timur (GLK) Tahun 2026.
Menurut Sarifah, budaya belajar tidak boleh berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal. Kebiasaan membaca dan belajar harus terus ditanamkan, terutama sejak dini dan dimulai dari rumah sebagai lingkungan terdekat anak.
“Saya mendambakan setiap rumah di Kalimantan Timur menjadi ruang belajar pertama bagi anak-anak kita,” ujar Sarifah saat menyampaikan sambutannya dalam kegiatan Festival Literasi dan Pencanangan Gerakan Literasi Kalimantan Timur (GLK) Tahun 2026 di Aula Tower Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur, Minggu (30/8/2026).
Ia mengajak para orang tua menyediakan ruang sederhana di rumah yang dapat menjadi tempat membaca bagi anak. Tidak harus besar, cukup dengan menghadirkan sudut kecil yang berisi buku-buku bacaan serta membiasakan belajar bersama selama 15 menit setiap hari tanpa gangguan gawai.
Menurutnya, yang paling penting bukan hanya ketersediaan buku, tetapi juga kehadiran orang tua untuk mendampingi dan membangun kebiasaan membaca bersama anak.
16c23357 C9b2 4b29 B4e3 Ce7a808aa534
Sarifah kemudian berbagi pengalaman keluarganya yang memiliki 13 anak. Ia mengatakan, buku menjadi salah satu hadiah yang paling sering diminta anak-anaknya, baik saat ulang tahun maupun ketika mereka meraih prestasi.
“Setiap kali mereka berulang tahun, atau saat kami berwisata bersama ke pusat perbelanjaan, hadiah yang mereka minta hanyalah buku. Setiap kami berkunjung ke sana, kami selalu menyempatkan diri singgah di toko buku,” tuturnya.
Ia berharap kebiasaan mencintai buku dan membaca tersebut dapat tumbuh pada anak-anak di seluruh Kalimantan Timur.
Sarifah juga menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab seorang ibu. Peran ayah dalam mendampingi proses belajar dan perkembangan anak juga sangat penting.
9a3a8882 1513 490d A6cf 3f430f4cea62
“Pendidikan bukanlah tugas ibu semata, melainkan ayah pun harus hadir dan terlibat di dalamnya,” tegasnya.
Dalam Gerakan Literasi Kaltim, Sarifah menyebut terdapat sejumlah program utama yang akan didorong. Pertama, Program Satu Guru, Satu Buku, yang diarahkan agar para pendidik tidak hanya menjalankan tugas mengajar, tetapi juga mampu menghasilkan karya tulis dalam bentuk buku.
Kedua, pengembangan Model Kampung/Desa Literasi Masa Depan. Program ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang menjadikan setiap sudut desa sebagai sarana belajar sekaligus membangun ekosistem pendidikan yang lengkap.
Ketiga, Gerakan OPD Mengajar. Melalui program tersebut, pemerintah diharapkan tidak hanya berperan memberikan pelayanan publik, tetapi juga turut mencerdaskan masyarakat.
Sarifah mendorong agar kantor-kantor pemerintahan pada waktu tertentu dapat dibuka bagi masyarakat umum. Dengan demikian, warga dapat datang untuk belajar, bertanya, sekaligus memahami berbagai bentuk pelayanan dan cara kerja pemerintahan.
“Saya berharap kepala OPD dan seluruh hadirin dapat bekerja sama menjadikan kantor-kantor wilayah terbuka, bahkan mungkin setiap akhir pekan, agar anak-anak dapat masuk, belajar, dan menumbuhkan semangat ilmu pengetahuan di sana,” katanya.
Ia menambahkan, gerakan literasi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga pemerintah.
“Generasi yang membaca hari ini adalah generasi yang memahami, berkarya, berkarakter, serta berdaya di masa depan,” pungkasnya.












